Sendiri bersama Tuhan

Sendiri bersama Tuhan

Selamat Datang di Pintu Ajaib!

Selamat Datang! Di hadapan Anda, telah berdiri sebuah pintu ajaib yang akan menghubungkan ide-ide labirin otak saya dengan mimpi serta idealisme Anda.
Terima Kasih karena Anda telah mau merengkuh mimpi-mimpi kehidupan seperti halnya burung Gereja yang senantiasa terbang rendah merengkuh mimpi-mimpinya.
Semoga Anda bisa menemukan keajaiban dalam ruang ide manusia yang sungguh ajaib.
---I Will Trust in You---

Perjalanan

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jumat, 27 Februari 2009

BAB III: KEKHASAN DALAM GEREJA KATOLIK

Teman-teman yang terkasih, pengembaraan kita dalam mencari esensi dasar Gereja sudah sampai di titik tengah. Itu berarti, kita masih menyisakan setengah perjalanan lagi menuju titik akhir pengembaraan kita. Pada bab ini, kita akan melihat lebih jauh tentang unsur-unsur khas yang hanya dimiliki oleh Gereja Katolik saja. Dan, beberapa di antaranya merupakan unsur yang langsung menunjukkan identitas kekatolikan.
Saya akan mencoba menggunakan cara pendekatan baru dalam memaparkan materi pada bab ini, yaitu melalui metode tanya jawab. Semoga dapat membantu pengembaraan kita bersama.

III.1. HIRARKI GEREJA
a. Makna dan Sejarah Singkat
1. Apa itu Pengertian Hirarki?
Hirarki berasal dari kata Hirarchia yang berarti Tata Kudus. Hirarki terkait dengan pelayanan dalam Gereja yang mengarah kepada Allah yang mahakudus. Hirarki menjadi tanda lahiriah yang menunjuk pada sifat Gereja sebagai institusi di dunia. Dapat pula dikatakan bahwa Hirarki lebih mirip dengan struktur keorganisasian dalam sebuah lembaga.
2. Apa fungsi dari Hirarki?
Ada dua fungsi hirarki. Pertama, fungsi sosiologis, yaitu hirarki menjadi simbol nyata yang menunjukkan bahwa Gereja adalah institusi lahiriah yang mendunia. Dengan fungsi itu, Gereja memperoleh pengakuan dari publik sebagai lembaga yang memiliki kekuatan publik. Kedua, fungsi religius, yaitu hirarki menjadi semacam jalan pelayanan iman umat yang mendasarkan dirinya pada iman kepada Yesus Kristus yang senantiasa membimbing Gereja-Nya hingga akhir zaman. Dengan kata lain, inti dari sebuah hirarki bukanlah struktur kekuasaan tapi struktur pelayanan.
3. Seperti apakah struktur hirarki dalam Gereja Katolik?
Susunan Hirarki Gereja secara formal adalah Uskup (Episkopos)-Imam (Presbyteros)-Diakon (Diakonos).
4. Kapan sistem hirarki macam itu mulai berlaku?
Sistem itu mulai dikenal pada akhir abad kedua. Struktur itu muncul seiring munculnya klaim dari Gereja bahwa dirinya adalah lembaga yang terpisah dari Yudaisme. Ekaristi dipandang sebagai pengganti korban kenisah. Mereka yang memimpin Ekaristi dengan segera disebut imam meskipun pada permulaannya, hanya para uskup yang dikatakan mempersembahkan kurban.
5. Siapakah yang masuk ke dalam hirarki?
Yang masuk ke dalam sistem hirarki adalah para pelayan tertahbis. Hanya kaum tertahbis-lah yang boleh masuk ke dalam struktur hirarkis Gereja. Kaum tertahbis itu kerap disebut sebagai Klerus. Tahbisan imamat-lah yang memasukkan seseorang ke dalam struktur hirarki Gereja.

b. Uskup, Imam, dan Diakon
1. Siapakah Uskup itu?
Uskup adalah seorang imam yang mendapatkan kepenuhan tahbisan imamat. Uskup menjadi pemimpin teritorial Gereja di wilayah tertentu. Untuk menjadi uskup, orang itu harus menjadi imam terlebih dahulu karena pada dasarnya Uskup adalah seorang imam. Uskup adalah pengganti para Rasul Kristus.
2. Siapakah Imam itu?
Imam adalah para pembantu uskup. Imamat mereka adalah terbatas. Para imam tidak berwenang mentahbiskan imam. Hanya uskup yang berhak mentahbiskan imam.
3. Siapakah Diakon itu?
Diakon tertahbis adalah para pembantu Uskup. Mereka berwenang membaptis orang dan memimpin sakramen pernikahan. Sakramen-sakramen lain masih belum boleh diterimakan hingga ia ditahbiskan menjadi Imam.
4. Apa yang dimaksud dengan tahbisan?
Tahbisan adalah suatu tindakan inderawi yang menandakan dan menyatakan bahwa sesuatu atau seseorang dikhususkan untuk mengabdi Yang Kudus.
5. Mengapa para imam dan para religius tidak boleh menikah padahal Yesus tidak pernah secara khusus berpesan kepada para murid-Nya agar tidak menikah?
Hidup tidak menikah disebut sebagai hidup selibat. Mengenai hal ini, kita perlu membuat pembedaan antara imam dan kaum religius. Imam menjalani hidup selibat karena peraturan Gereja mewajibkannya. Sedangkan, kaum religius (suster/bruder/imam religius) menjalani hidup selibat karena secara bebas ia memilih sendiri cara hidup tersebut. Lewat kaul kemurniannya, mereka harus menjalani hidup tidak menikah. Dengan kata lain, seandainya peraturan Gereja mengizinkan seorang imam untuk menikah, maka seorang religius tetap tidak dapat menikah karena terikat dengan kaul kemurniannya itu. Sedangkan, imam non religius dapat melepaskan diri dari kewajiban hidup selibat bila peraturan Gereja mengizinkan hal itu.
Yesus memang tidak pernah menyuruh murid-Nya untuk tidak menikah. Bahkan, Petrus pun menikah. Jika demikian, untuk apa imam dan kaum religius tetap menjalani hidup selibat? Ada dua alasan untuk itu. Pertama, untuk meniru Yesus yang tidak menikah. Kedua, karena Yesus pernah bersabda bahwa ada orang yang membuat dirinya tidak menikah karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga (Lih. Mat 19:12).
Sesungguhnya, tidak ada dasar biblis untuk kewajiban bagi para imam. Bahkan, dahulu, para imam Katolik pun boleh menikah. Dalam hal ini, Paus memiliki kekuasaan penuh untuk melepaskan kewajiban itu. Hanya saja, dari pengalaman selama ratusan tahun, Gereja tetap mempertahankan kewajiban hidup selibat dengan alasan bahwa seorang imam yang tidak memiliki istri dan anak, biasanya akan lebih terlindungi dari godaan untuk memakai uang jemaat yang dipercayakan kepadanya untuk kepentingan keluarganya. Atau, dalam bahasa rasul Paulus, “Orang yang tidak beristri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan.” (Lih. 1 Kor 7:32).
6. Apa dasar peraturan dari hidup selibat?
Kewajiban selibat bagi semua imam ditetapkan oleh Gereja secara resmi dan universal dalam Konsili Lateran I dan II (tahun 1123 dan 1139). Sepanjang sejarahnya, ada beberapa alasan yang mendukung hidup selibat bagi para imam, yaitu:
a. Imam menjalani hidup selibat untuk meneladani Kristus dan Paulus yang tidak menikah.
b. Imam tidak menikah karena cintanya kepada Kristus dan demi Kerajaan Allah.
c. Imam tidak menikah karenahidup selibat dan pantang kenikmatan seksual dianggap sebagai persiapan yang paling baik untuk melayani altar Tuhan.
d. Imam tidak menikah agar harta benda Gereja jangan sampai menjadi warisan keturunannya.
7. Apa bedanya antara Imam Projo dengan Imam Ordo/Religius?
a. Imam Praja adalah seorang imam yang langsung berada di bawah pimpinan seorang Uskup. Sedangkan, Imam religius adalah imam yang sekaligus seorang religius yang taat kepada pimpinan tarekatnya.
b.Imam Praja tidak mengucapkan kaul kemiskinan, ketaatan, dan kemurnian. Sedangkan seorang imam religius, mengucapkan ketiga kaul tersebut dan terikat padanya.
c. Imam religius memiliki regula (aturan dasar ordo yang disahkan oleh Paus), sedangkan imam Praja tidak memiliki regula.

C. Peranan Kaum Awam dalam Gereja
1. Siapakah itu Kaum Awam?
Kaum awam adalah mereka yang tidak mendapatkan tahbisan imamat. Kaum religius yang bukan klerus, masuk ke dalam kelompok ini, seperti bruder dan suster. Dengan demikian jelas, bahwa ada dua status besar dalam Gereja, yaitu kaum klerus (kaum tertahbis) dan kaum Awam (non-tertahbis).
2. Berikut adalah kaum religius yang juga termasuk ke dalam golongan Awam:
a. Frater: Calon imam yang secara intensif mempersiapkan diri untuk menerima tahbisan imamat.
b. Novis adalah para calon biarawan/wati yang mempersiapkan diri secara intensif untuk mengucapkan tri kaul yang pertama. Masa yang dijalani seorang novis disebut Novisiat.
c. Postulan adalah sebutuan untuk para calon biarawan/wati yang sudah mencoba hidup di dalam biara sebelum mereka diperkenankan secara resmi masuk ke masa novisiat.
d. Aspiran adalah mereka yang ingin masuk ke suatu biara.
e. Rahib adalah para pertapa dan para anggota ordo kontemplatif yang hidup di balik tembok.
f. Rubiah adalah rahib perempuan.
g. Abas adalah seorang kepala suatu biara pertapaan.


III.2. TRADISI “BERDOA” DALAM GEREJA KATOLIK
A. Mengapa Orang Katolik Berdoa kepada Orang Kudus?
Pertanyaan ini kerap dimunculkan oleh orang Protestan kepada orang Katolik. Mereka mempertanyakan bahwa mengapa orang Katolik tidak berdoa langsung saja kepada Allah atau Yesus. Hal itu akan dijabarkan sebagai berikut:
Hal pertama yang harus diperhatikan adalah bahwa Alkitab telah menunjukkan banyak contoh nyata kepada kita bahwa manusia bisa menjadi pengantara pada Allah demi kepentingan orang lain, seperti:
1. Dalam Perjanjian Lama:
- Abraham berdoa untuk kepentingan penduduk kota Sodom dan Gomora.
- Musa sering berdoa untuk kepentingan umat Israel.
- Bangsa Israel meminta kepada Samuel agar ia mendoakan mereka.
2. Dalam Perjanjian Baru:
- Yesus berdoa untuk para murid-Nya dan untuk dunia.
- Paulus senantiasa berdoa untuk umatnya.
- Paulus juga sadar bahwa keselamatannya tergantung juga pada doa-doa umatnya.
Contoh-contoh itu menunjukkan tiga hal berikut: Pertama, bahwa doa seseorang dapat berguna bagi orang lain. Paham ini memunculkan paham tentang doa syafaat. Kedua, bahwa kita pun dapat meminta kepada orang lain supaya berdoa bagi kita. Ketiga, bahwa doa orang yang benar, akan sangat besar kuasanya.
Dengan ketiga paham itu, maka praktek berdoa kepada orang kudus dapat dibenarkan. Sebab, orang-orang kudus itu adalah anggota Gereja juga. Setelah mereka meninggal dunia dan bersatu dengan Kristus di Surga, mereka tetap anggota satu tubuh Kristus. Mereka tidak terpisah jauh dari kita, tapi malah lebih dekat dengan kita. Kita meyakini bahwa doa-doa orang Kudus itu lebih besar kuasanya karena mereka itu lebih dekat dengan Allah di surga.
Berdoa kepada orang kudus bukan berarti menyembah orang kudus. Akan tetapi, berdoa kepada orang kudus berarti menyampaikan permohonan supaya mereka memintakan rahmat-rahmat tertentu bagi kita. Dengan kata lain, orang-orang kudus itu hanyalah perantara manusia kepada Kristus. Dengan demikian, praktek berdoa dengan perantaraan orang kudus tidak mengurangi nilai Kristus sebagai satu-satunya perantara antara manusia dan Bpa.

B.Tradisi Berdoa untuk Orang Mati dan Api Penyucian.
1. Dasar historis apa yang memunculkan tradisi ini?
Dalam 2 Mak 12:38-45, diceritakan bahwa para tentara Yahudi yang tewas dalam perang suci yang dipimpin oleh Yudas Makabe itu kedapatan memiliki jimat-jimat dari berhala kota Yamnia di bawah jubahnya. Menurut kitab ini, dosa itulah yang menyebabkan kematian mereka itu. Maka dari itu, para prajurit yang masih hidup, mengirimkan uang yang akan digunakan untuk membeli kurban penghapus dosa bagi para prajurit yang gugur itu. Bantuan rohani untuk orang mati itu, dianggap sebagai perbuatan yang saleh dan baik.
Kisah itu menunjukkan adanya kepercayaan bahwa sesudah mati, dosa orang dapat diampuni berkat doa-doa dan kurban dari mereka yang masih hidup. Dalam kitab Sirakh 7:33, juga dikatakan “Hendaklah kemurahan hatimu meliputi semua orang yang hidup, tapi orang mati pun jangan kau kecualikan pula dari kemurahanmu. Ayat ini menunjukkan bahwa mereka yang masih hidup harus merawat dan memberikan bantuan rohani bagi orang yang sudah mati.
2. Bila seseorang meninggal dunia, ke manakah rohnya pergi?
Menurut ajaran Katolik, sesudah kematian, setiap orang akan diadili secara pribadi. Ada tiga kemungkinan dari hasil pengadilan itu, yaitu orang masuk surga, neraka, dan masuk ke api penyucian sebelum orang masuk ke surga.
Dasar untuk keyakinan itu adalah:
- Lukas 16:22 : Orang kaya yang sudah mati berteriak minta tolong kepada Abraham.
- 2 Korintus 5:8 dan Filipi 1:23: Paulus mengungkapkan keinginannya untuk mati saja, yakni berpisah dari tubuhnya yang fana untuk bersatu dengan Kristus demi kebahagiaan. Keyakinan Paulus ini mencerminkan iman bahwa sebelum kebangkitan pada akhir zaman pun, orang yang mati sudah dapat bersama dengan Kristus di surga.
3. Kematian erat kaitannya dengan akhir zaman. Apa yang akan terjadi saat itu?
Pada akhir zaman, akan ada kebangkitan badan. Jiwa orang mati akan dipersatukan kembali dengan badan untuk diadili bersama-sama dengan seluruh umat manusia. Semua akan dipisahkan menjadi dua kelompok, yaitu domba dan kambing. Hasil pengadilan pribadi yang sudah terjadi sebelum akhir zaman, tetap berlaku dan hanya akan diteguhkan dalam pengadilan umum di akhir zaman itu.
4. Apa gunanya mendoakan orang yang sudah meninggal?
Tujuan mendoakan roh orang yang sudah meninggal ialah memperingan dan mempersingkat masa penderitaan arwah orang itu seandainya orang itu masih harus dimurnikan di api penyucian. Kita juga boleh berdoa dengan perantaraan orang-orang yang sudah meninggal agar mereka juga mendoakan kita kepada Allah. Hanya saja, berdoa kepada orang yang sudah meninggal, harus mengandaikan bahwa orang itu sudah masuk surga. Lalu, bagaimana jika kita berdoa untuk memanggil orang yang sudah meninggal agar ia memberikan petunjuk? Hal itu dilarang oleh Gereja Katolik. Praktek ini dilarang karena sama halnya dengan menduakan Tuhan.
5. Apakah setiap orang Kristen akan otomatis masuk surga ketika ia meninggal?
Dalam Gereja Katolik, yang menyelamatkan manusia adalah bukan hanya iman, tapi juga perbuatan. Baptis memang menjadi jaminan bagi seseorang untuk bersatu dengan Yesus di surga nanti, tapi itu tidak begitu saja membuat orang itu otomatis masuk ke surga. Yang pasti masuk ke surga adalah mereka yang mati dalam persatuan dengan Yesus. Persatuan ini dapat diperoleh bila selama hidup di dunia, perbuatan yang dilakukannya terus sejalan dengan nilai-nilai kebaikan. Orang Kristiani yang terpisah dari Kristus karena dosa-dosanya, tidak akan dipersatukan dengan Yesus di surga.



6. Apa itu ajaran tentang Api Penyucian?
Ajaran ini berdasarkan keyakinan bahwa ada orang yang tidak terpisah dari Kristus, tetapi sekaligus belum sepenuhnya bersatu dengan Yesus sehingga ia perlu disucikan dan dimurnikan di dalam Api Penyucian sebelum boleh bersatu dengan Yesus di surga. Ajaran Api Penyucian tidak mengurangi sedikit pun peranan Yesus Kristus yang mengampuni dosa kita. Manfaat doa bagi jiwa di Api Penyucian adalah meringankan hukuman atas doa, dan bukan penghapusan dosa itu sendiri.

III.3. SAKRAMEN-SAKRAMEN
1. Apa itu Sakramen?
Sakramen adalah tanda yang mendatangkan rahmat Allah dan memberikan kehidupan ilahi kepada kita, yang telah ditetapkan Kristus dan dipercayakan kepada Gereja-Nya. Sakramen-sakramen yang dirayakan dengan pantas dalam iman, memberikan rahmat yang mereka nyatakan. Sakramen itu menjadi berdaya guna karena Kristus sendiri bekerja di dalamnya. Yesus sendirilah yang bertindak dalam Sakramen-sakramen-Nya untuk membagi-bagikan rahmat yang dinyatakan oleh Sakramen.
Gereja sendiri mengajarkan bahwa Sakramen adalah karya penyelamatan Yesus Kristus yang dimaksudkan untuk membantu anggota Gereja dalam perjalanan iman mereka menuju kehidupan kekal.

2. Sakramen apa sajakah yang ada dalam Gereja Katolik?
Dalam Gereja Katolik, ada tujuh sakramen, yaitu:
a. Sakramen Baptis (Sacramentum Baptismi)
b. Sakramen Penguatan (Sacramentum Confirmationis)
c. Sakramen Ekaristi (Sacramentum Eucharistiae)
d. Sakramen Tobat (Sacramentum Paenitentiae)
e. Sakramen Imamat (Sacramentum Ordinis)
f. Sakramen Perkawinan (Sacramentum Matrimonii)
g. Sakramen Pengurapan orang sakit (Sacramentum Unctionis Infirmorum)

3. Bagaimana, kapan, dan oleh siapa ketujuh sakramen itu diadakan?
Menurut keyakinan Gereja Katolik, ketujuh sakramen diadakan atau dikehendaki oleh Yesus Kristus sendiri. Hal itu disimpulkan dari prakteknya dalam Gereja sejak dahulu. Kemudian, praktek itu direfleksikan dalam terang Perjanjian Baru dan akhirnya dinyatakan sebagai sakramen yang dikehendaki olehYesus. Adapun dasar alkitabiah untuk ketujuh sakramen itu adalah sebagai berikut:
1. Untuk sakramen baptis, adalah sabda Yesus yang tertulis dalam Mat 28:19-20, dan juga perintah Petrus dalam Kis 2:38.
2. Untuk sakramen Krisma, dasar yang dapat digunakan adalah Kisah Para Rasul 8:14-16 yang berbicara tentang Petrus dan Yohanes yang berdoa supaya orang-orang Samaria beroleh Roh Kudus. Pembedaan antara sakramen Krisma dan Baptis, ditunjukkan dalam ayat 16.
3. Untuk sakramen Ekaristi, dasar yang digunakan adalah Kisah Perjamuan Terakhir Yesus dengan para murid-Nya (Mat 26:26-29; Mrk 14:22-25)
4. Untuk sakramen Tobat, dasar yang digunakan adalah sabda Yesus kepada para Rasul yang terdapat dalam Yoh 20:22-23.
5. Untuk sakramen Orang Sakit, dasar yang dapat digunakan adalah surat Yakobus 5:14-15, dan Mrk 6:13.
6. Untuk sakramen Imamat, dasar yang dapat digunakan adalah ayat-ayat yang menunjukkan bagaimana Yesus menjadikan para Rasul “petugas” Gereja dan peserta dalam karya dan kuasa imamat-Nya, khususnya perintah Yesus dalam Perjamuan Terakhir, agar para Rasul mengadakan perjamuan itu sebagai kenangan akan Dia.
7. Untuk sakramen perkawinan, dasar yang digunakan adalah Ef 5:22-28 tentang kasih suami-istri sebagai tanda dan perwujudan kasih Kristus kepada umat-Nya dan kasih umat kepada Kristus.

4. Apakah Makna setiap sakramen itu?
Nama Sakramen
Makna Sakramen
1. Sakramen Baptis
Menginisiasikan seseorang ke dalam kehidupan Kristen dan Gereja. Sakramen ini menjadi tanda bahwa kita telah diselamatkan oleh Yesus Kristus dan disucikan oleh Roh Allah. Pembaptisan menghapuskan dosa asal.
2. Sakramen Penguatan
Memeteraikan seseorang dengan Roh Kudus. Penguatan memampukan seseorang untuk melayani Kerajaan Allah dengan baik. Melalui penumpangan tangan dan pengurapan minyak krisma, karunia Roh Kudus dicurahkan kepada para penerima Sakramen Krisma.
3. Sakramen Ekaristi
Sakramen Ekaristi adalah puncak misteri Kristus. Dalam Ekaristi, tercakup seluruh kekayaan rohani Gereja, yakni Kristus sendiri, Paskah dan Roti Hidup.
4. Sakramen Tobat
Sakramen ini merupakan perayaan resmi pertobatan pendosa dari dosa-dosanya, pengampunan Allah melalui absolusi dari imam dan janji si peniten untuk melunasi dosanya dan membarui kehidupan.
5. Sakramen Pengurapan orang sakit
Sakramen ini merupakan upacara liturgis untuk mendoakan anggota Gereja yang sakit berat. Dalam sakramen ini, terkandung unsur rekonsiliasi (pertobatan). Simbol minyak suci dan penumpangan tangan yang digunakan dalam sakramen ini, menyatakan iman kita akan kekuatan Allah yang mengatasi penyakit dan penderitaan dalam kehidupan persekutuan.
6. Sakramen Imamat
Sakramen imamat adalah sakramen pelayanan. Para uskup, imam, dan diakon dipanggil untuk menguduskan kaum awam, yang turut mengambil bagian dalam imamat umum yang diterima pada saat mereka dibaptis.
7. Sakramen Pernikahan
Melalui sakramen ini, kedua pengantin memperlihatkan suatu kedalaman dan keabadian kasih Allah dan mengikrarkan suatu bentuk persatuan permanen satu sama lain.

5. Apa sajakah yang menjadi unsur-unsur dasar dari setiap sakramen itu?
Nama Sakramen
Unsur dasar Sakramen
1. Sakramen Baptis
Air pembaptisan, dan forma pembaptisan dalam kuasa Tritunggal Mahakudus.
2. Sakramen Penguatan
Minyak Krisma dan Penumpangan Tangan
3. Sakramen Ekaristi
Perjamuan
4. Sakramen Tobat
Absolusi, Penitensi
5. Sakramen Pengurapan orang sakit
Minyak Pengurapan orang sakit (Oil Infirmorum)
6. Sakramen Imamat
Penumpangan tangan, Tahbisan
7. Sakramen Pernikahan
Janji pernikahan, kedua mempelai, pejabat Gereja


6. Tujuh Sakramen itu dikelompokkan menjadi tiga kelompok lagi. Apa sajakah itu?
Sakramen baptis, penguatan, dan ekaristi disebut sebagai sakramen inisiasi karena ketiganya merupakan jalan menuju partisipasi penuh dalam misteri Paskah Kristus dan menjadikan kita anggota penuh dalam Gereja.
Kelompok yang kedua adalah Sakramen Penyembuhan. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah sakramen rekonsiliasi dan pengurapan orang sakit. Disebut sebagai sakramen penyembuhan karena sakramen itu mampu memberikan kesembuhan tubuh, jiwa, dan pikiran seseorang.
Kelompok ketiga adalah Sakramen Pelayanan. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah sakramen imamat dan pernikahan. Disebut sebagai sakramen pelayanan adalah karena sakramen ini mengarahkan setiap orang untuk melayani Gereja dan dunia.

7. Bagaimana kita merayakan Sakramen?
Pertama, dengan tanda-tanda dan lambang-lambang. Allah mengajar kita melalui kodrat manusia, kebudayaan, karya penciptaan, dan peristiwa-peristiwa dunia. Yesus kerap menggunakan lambang dan isyarat untuk menyingkapkan rahasia Kerajaan Allah.
Kedua, dengan kata-kata dan tindakan. Kata-kata dan tindakan ini terlihat dalam upacara-upacara liturgis yang dilakukan. Kata-kata dan tindakan itu menyuburkan iman, dan menghadirkan kemuliaan Allah yang diwartakan.
Ketiga, dengan nyanyian dan musik. Keempat, dalam masa liturgi. Seluruh misteri Kristus dan pengharapan akan kedatangan-Nya, coba disingkapkan oleh Gereja dalam masa-masa liturgi yang dijalani.

8. Apa itu Sakramentali?
Sakramentali adalah sarana untuk mengingat kehadiran Allah dalam kehidupan manusia. Contoh sakramentali adalah Gambar, Patung, dan medali Yesus maupun orang-orang kudus. Ibadat-Ibadat Sabda dan doa-doa liturgis juga menjadi bentuk nyata dari Sakramentali.

III.4. Dokumen-Dokumen Gereja
A. Dokumen Konsili Vatikan II
1. Apa itu Dokumen Konsili Vatikan II (DKV)?
DKV adalah dokumen resmi Gereja yang dihasilkan dalam Konsili Vatikan II.

2. Kapan Konsili Vatikan II itu sendiri dilaksanakan?
Konsili Vatikan II dimulai pada tanggal 11 Oktober 1962 dan ditutup pada tanggal 8 Desember 1965. Lamanya konsili ini adalah 3 tahun. Penggagasnya adalah Paus Yohanes XXIII.

3. Ada berapa dokumenkah di dalam DKV II?
Konsili Vatikan II telah berhasil menghasilkan 16 dokumen resmi. Dokumen resmi itu terdiri dari 4 konstitusi, 9 dekrit, dan 3 deklarasi. Konstitusi mengungkapkan landasan ideal; Dekrit mengandung keputusan-keputusan yang ingin dilaksanakan; dan deklarasi menuangkan pernyataan sikap Gereja terhadap realitas tertentu.

4. Apakah yang menjadi inti keseluruhan DKV II?
DKV II ingin mencanangkan pemahaman diri Gereja Katolik akan tempat, hak dan kewajibannya dalam dunia dan tata masyarakat serta menggoreskan rencana upaya dan usaha yang ingin dilaksanakan.



5. Dokumen-dokumen apa sajakah yang ada dalam DKV II?
Nama Dokumen
Jenis Dokumen
Isi Dokumen
Struktur Teknis
Ad Gentes (AG)
Dekrit
Karya Misioner Gereja
Pendahuluan + 6 Bab Isi
Apostolicam Actuositatem (AA)
Dekrit
Kerasulan Awam
Pendahuluan + 6 Bab Isi
Christus Dominus (CD)
Dekrit
Tugas Kegembalaan para Uskup dalam Gereja
Pendahuluan + 3 Bab Isi
Dei Verbum (DV)


Konstitusi
Wahyu Ilahi
Pendahuluan + 6 bab Isi
Dignitatis Humanae (DH)
Deklarasi
Kebebasan Beragama
Pendahuluan + 1 Bab Isi
Gaudium et Spes (GS)
Konstitusi
Gereja di dalam dunia
Pendahuluan + 5 bab isi + Penutup
Gravissimum Educationis (GE)
Deklarasi
Pendidikan Kristen
1 Bab isi
Inter Mirifica (IM)
Dekrit
Alat-Alat Komunikasi Sosial
Pendahuluan + 2 Bab Isi
Lumen Gentium (LG)
Konstitusi
Gereja
8 Bab Isi
Nostra Aetate (NA)
Deklarasi
Sikap Gereja terhadap agama bukan Kristen
1 Bab Isi
Optatam Totius (OT)
Dekrit
Pendidikan Imam
Pendahuluan + 1 bab Isi
Orientalium Ecclesiarum (OE)
Dekrit
Gereja Katolik Timur
1 Bab Isi
Perfectae Caritatis (PC)
Dekrit
Pembaruan yang serasi Hidup Kebiaraan
1 Bab Isi
Presbyterorum Ordinis (PO)
Dekrit
Pelayanan dan Kehidupan para Imam
Pendahuluan + 3 Bab Isi
Sacrosanctum Concilium (SC)
Konstitusi
Liturgi Kudus
Pendahuluan + 6 Bab Isi
Unitatis Redintegratio (UR)
Dekrit
Ekumene
Pendahuluan + 3 Bab Isi

B. Ajaran-Ajaran Sosial Gereja
1. Apa itu Ajaran Sosial Gereja (ASG)?
Ajaran Sosial Gereja (ASG) adalah kumpulan dokumen yang dikeluarkan Gereja dalam menanggapi realitas sosial yang terjadi di dunia ini. Ajaran sosial Gereja muncul dari sebuah kesadaran dan upaya Gereja untuk mau terlibat dalam hidup sosial beserta permasalahan sosial yang ada di dalamnya.

2. Siapakah yang memunculkan ASG? kapan itu muncul? Dan apa sajakah yang termasuk sebagai ajaran sosial Gereja?
ASG tidak dimunculkan secara bersamaan dan tidak pula ditetapkan oleh satu orang saja. Ajaran Sosial Gereja yang ada saat ini merupakan kumpulan dari dokumen yang muncul dalam jangka waktu yang berbeda. Berikut adalah rincian yang dapat dilihat berdasarkan urutan tanggal:
Nama Dokumen
Tanggal Penetapan
Yang menetapkan
Tema Dokumen
Ensiklik Rerum Novarum
15 Mei 1891
Paus Leo XIII
Keadaan Kaum Buruh
Ensiklik Quadragesimo Anno
15 Maret 1931
Paus Pius XII
Pembangunan ulang Tata Sosial dan Penyesuaiannya dengan hukum Injil (Dalam rangka Ulang tahun ke-40 Rerum Novarum
Ensiklik Mater et Magistra
15 Mei 1961
Paus Yohanes XXIII
Perkembangan akhir Masalah Sosial dalam Terang Ajaran Kristiani
Ensiklik Pacem in Terris
11 April 1963
Paus Yohanes XXIII
Perdamaian Semesta dalam Kebenaran, Keadilan dan Cinta Kasih
Konstitusi Gaudium et Spes
7 Desember 1965
Konsili Vatikan II
Gereja di Dunia
Ensiklik Populorum Progressio
26 Maret 1967
Paus Paulus VI
Perkembangan Bangsa-Bangsa di Dunia
Ensiklik Octogesima Adveniens
14 Mei 1971
Paus Paulus VI
Tantangan Marxisme, Sosialisme, dan Liberalisme
Amanat Convenientes Ex Universo
30 November 1971
Amanat Sinode Uskup
Keadilan Dunia
Ensiklik Evangelii Nuntiandi
8 Desember 1975
Paus Paulus VI
Pewartaan Injil dalam Dunia Modern
Ensiklik Redemptor Hominis
9 Maret 1979
Paus Yohanes Paulus II
Misteri Penebusan Kristus
Ensiklik Laborem Excercens
14 September 1979
Paus Yohanes Paulus II
Kerja Manusia
Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis
30 Desember 1987
Paus Yohanes Paulus II
Keprihatinan Sosial akan Dunia
Ensiklik Centesimus Annus
1 Mei 1991
Paus Yohanes Paulus II
Kebudayaan Modern dan Negara
(Dalam rangka Ulang Tahun ke-100 Rerum Novarum)


C. Kitab Hukum Kanonik
1. Apa itu Kitab Hukum Kanonik (KHK)?
KHK adalah naskah legislatif utama Gereja yang bersandar pada warisan hukum dan perundangan Wahyu serta Tradisi Gereja yang juga merupakan alata untuk menjaga tatanan hidup pribadi serta hidup sosial para anggta Gereja. KHK hanya berlaku untuk Gereja Latin (Gereja Katolik Roma). KHK tidak menentukan ritus yang harus ditepati dalam perayaan liturgis, dan keberadaan KHK juga tidak menghapuskan keberadaan hukum sipil. KHK merupakan upaya Gereja untuk membahasakan ajaran teologis Gereja ke dalam bahasa hukum yang lebih real.
2. Sejak kapan KHK ini berlaku dan oleh siapa KHK ini diberlakukan?
KHK yang berlaku sekarang adalah KHK 1983. KHK itu diundangkan oleh alm. Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 25 Januari 1983. KHK itu sendiri mulai diberlakukan untuk seluruh Gereja Katolik ritus Latin sejak 27 November 1983. KHK 1983 merupakan pembaharuan atas KHK 1917 yang sudah terlebih dahulu diundangkan oleh alm. Paus Yohanes XXIII pada hari raya Pentakosta tahun 1917.
3. Untuk apa KHK ini ada?
Ada dua tujuan yang hendak dicapai oleh KHK ini. Pertama, menumbuhkan keteraturan yang mendalam pada diri umat sehingga masyarakat Gerejawi mampu memberikan tempat utama kepada cinta kasih, rahmat, dan karisma-karisma. Kedua, memudahkan perkembangan yang teratur dari penghayatan akan cinta kasih, rahmat, dan karisma Gereja di dalam kehidupan tiap pribadi.
4. Bagaimanakah sistematisasi dalam KHK?
KHK 1983 terdiri atas tujuh buku yang masing-masing memiliki tema-tema bahasan tersendiri. Ketujuh buku itu adalah:
Buku I : Norma-Norma Umum Gereja
Buku II : Umat Allah
Buku III : Tugas Gereja Mengajar
Buku IV : Tugas Gereja Menguduskan
Buku V : Harta Benda Gereja
Buku VI : Sanksi-Sanksi dalam Gereja
Buku VII : Hukum Acara
5. Siapa sajakah yang terikat dengan KHK ini?
Yang terikat oleh KHK ini adalah :
Sudah dibaptis dalam Gereja Katolik atau diterima di dalamnya.
Mampu menggunakan akal budinya dengan cukup.
c. Telah genap berumur tujuh tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar